Musim kelulusan telah tiba. Banyak siswa yang menangis, berpelukan, bersujud syukur dalam menyikapi kelulusannya. Semua berbahagia ketika hari kelulusan. Ketika sudah dinyatakan lulus, maka label alumnus disematkan. Tetapi, tidak semua serempak menggunakan kata alumnus, ada juga yang menggunakan kata alumni.
Seperti waktu penulis lulus SMA, seorang ayah dari teman penulis menyapa dengan panggilan alumnus, “Wah, selamat udah jadi alumnus sekarang mah.” sementara satpam dan guru sekolah menyapa dengan panggilan alumni “Semoga lulus SNMPTN alumni”. Dua sapaan tersebut ditujukan hanya pada penulis.
Selain dari kasus tersebut yang merupakan bahasa lisan, dalam bahasa tulis pun penulis menemukan kasus yang serupa. Di media-media masa, penulis menemukan penggunaan kata alumnus dan alumni yang tidak serempak, penulis selalu menemukannya di biodata singkat penulis artikel, contohnya adanya kalimat “Hadi Gumilar, alumnus Pendidikan Bahasa Jepang UPI.” Lalu ada kalimat “Sani Nurhasanah, alumni Pendidikan Matematika UPI”.
Dari dua kasus tersebut mana sebenarnya yang benar, apakah alumnus atau alumni?
Baca Selengkapnya....
Baca Selengkapnya....
Sebenarnya kasus alumnus dan alumni terletak pada bentuk tunggal dan jamak. Umumnya dalam bahasa Indonesia bentuk jamak dibentuk lewat penambahan kata para, penambahan adverbia, dan reduplikasi (pengulangan). Proses penambahan kata para seperti adanya bentuk jamak para guru, para mahasiswa, bentuk tunggalnya guru dan mahasiswa. Penambahan adverbia menurut A. Chaer (2008) bisa dengan adverbia semua, beberapa, banyak, sejumlah, seluruh. Seperti adanya bentuk jamak semua peraturan, beberapa perindustrian, banyak perdebatan, sejumlah pertokoan, seluruh pergudangan. Bentuk tunggalnya adalah peraturan, perindustrian, perdebatan, pertokoan, pergudangan. Bentuk reduplikasi seperti adanya bentuk jamak mobil-mobil yang bentuk tunggalnya mobil.
Untuk kasus alumnus dan alumni tidak memakai rumus penjamakan yang umumnya. Kata alumnus dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna orang yang telah lulus atau tamat dari sekolah atau perguruan tinggi. Sementara alumni orang-orang yang telah lulus atau tamat dari sekolah atau perguruan tinggi. Bila kita cermati, makna kedua kata tersebut hampir sama, perbedaannya terletak pada kata orang (alumnus) dan orang-orang (alumni). Berarti alumnus untuk bentuk tunggal, sedangkan alumni untuk bentuk jamak.
Jadi, adanya kalimat, “para alumni SMP N 1 Kersamanah” jelas keliru. Karena tanpa penambahan kata para pun kata alumni telah menampung konsep jamak. Perbaikan bisa dilakukan dengan menghilangkan kata para atau mengganti alumni dengan alumnus.
Kasus penyapaan yang penulis utarakan sebelumnya pun kini bisa kita tentukan mana yang benar dan keliru. Penyapaan “Wah, selamat udah jadi alumnus sekarang mah” benar, penyapaan “Semoga lulus SNMPTN alumni” keliru karena hanya ditujukan kepada satu orang, tunggal. Penulisan biodata pun sama, kalimat “Hadi Gumilar, alumnus Pendidikan Bahasa Jepang UPI” benar, sementara “Sani Nurhasanah, alumni Pendidikan Matematika UPI” keliru karena bentuk yang dimaksud adalah seorang, tunggal.
***
Kerancuan penggunaan kata alumnus dan alumni di masyarakat menurut penulis wajar. Kewajaran tersebut karena kedua kata tersebut mempunyai sistem makna yang berbeda dengan kata-kata lain dalam bahasa Indonesia. Umumnya makna kata-kata dalam bahasa Indonesia tidak bermakna jamak, menjadi jamak ketika dilakukan penambahan kata para, adverbia, atau proses reduplikasi. Dalam otak bahasa para penutur bahasa Indonesia telah terekam sebuah rumus penjamakan. Rumus-rumus tersebut seperti guru menjadi para guru, peraturan menjadi semua peraturan, dan mobil menjadi mobil-mobil, maka ketika disuguhkan kata alumni, para penutur bahasa Indonesia yang tidak mengetahui makna kata tersebut, bisa menjadikannya para alumni, semua alumni, atau alumni-alumni.
***
Muhamad Patoni.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar